Maskot paling ikonik sepanjang sejarah Piala Dunia memainkan peran penting dalam membentuk identitas visual dan narasi budaya turnamen sepak bola terbesar di dunia. Menjelang Piala Dunia FIFA 2026, sejarah Piala Dunia FIFA menunjukkan bahwa maskot berfungsi sebagai simbol budaya tuan rumah sekaligus medium komunikasi global yang menjembatani turnamen dengan publik lintas usia. Dari era klasik hingga modern, kehadiran maskot membantu memperkuat daya tarik turnamen dan memperluas jangkauan sepak bola di tingkat global.
Peran Maskot dalam Identitas Piala Dunia
Sejak kemunculannya, maskot berfungsi lebih dari sekadar elemen hiburan. Maskot menjadi wajah visual turnamen, mengemas nilai budaya tuan rumah, dan menyampaikan pesan yang mudah diterima keluarga serta anak-anak. Dalam praktiknya, FIFA memanfaatkan maskot untuk memperluas jangkauan komunikasi—baik melalui materi promosi, siaran, hingga platform digital.
Awal Sejarah: World Cup Willie (1966)
Sejarah mencatat World Cup Willie sebagai maskot resmi pertama Piala Dunia pada edisi 1966 di Inggris. Karakter singa yang mengenakan atribut Inggris ini langsung melekat di ingatan publik. Banyak pihak menilai World Cup Willie menetapkan standar awal maskot yang sukses: sederhana, mudah dikenali, dan sarat identitas nasional.
Ikon Spanyol: Naranjito (1982)
Pada Piala Dunia 1982, Spanyol memperkenalkan Naranjito, seekor jeruk yang mengenakan seragam tim nasional. Lebih lanjut, seiring Naranjito terus tampil konsisten di berbagai materi promosi dan media, publik pun semakin mudah mengenalinya sebagai salah satu maskot paling ikonik sepanjang sejarah Piala Dunia. Representasi produk lokal dan visual cerah menjadikan Naranjito efektif sebagai duta budaya.
Eksperimen Desain: Ciao (1990)
Italia memilih pendekatan berbeda lewat Ciao pada Piala Dunia 1990. Figur manusia abstrak dengan warna bendera Italia ini memicu perdebatan karena menyimpang dari pakem maskot berbasis hewan. Meski demikian, Ciao menandai keberanian desain dan semangat modernitas yang mencerminkan zamannya.
Semangat Afrika: Zakumi (2010)
Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan menghadirkan Zakumi, seekor macan tutul berambut hijau. Nama Zakumi menggabungkan “ZA” (kode negara Afrika Selatan) dan “kumi” (sepuluh). Zakumi menyuarakan energi muda, inklusivitas, dan kebanggaan Afrika sebagai tuan rumah pertama dari benua tersebut.
Pesan Lingkungan: Fuleco (2014)
Brasil mengusung Fuleco, armadillo tiga pita, pada Piala Dunia 2014. Fuleco menggabungkan kata “futebol” dan “ecologia”, menegaskan pesan keberlanjutan. Maskot ini menunjukkan bagaimana narasi global—seperti kepedulian lingkungan—dapat terintegrasi dengan perayaan sepak bola.
Evolusi Era Digital
Dalam era modern, maskot tidak lagi terbatas pada kostum fisik. Mereka hadir sebagai karakter digital di animasi, gim, media sosial, dan pengalaman interaktif. Pendekatan ini memperkuat keterlibatan audiens global dan menyesuaikan perubahan perilaku konsumsi konten, tanpa meninggalkan akar budaya tuan rumah.
Menatap Piala Dunia 2026
Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan bersama-sama menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 dengan format 48 tim. Oleh karena itu, publik menantikan bagaimana maskot edisi ini merepresentasikan kolaborasi lintas negara dan keberagaman Amerika Utara. Meskipun pihak penyelenggara hingga saat ini belum mengumumkan maskot resmi, pengalaman pada edisi-edisi sebelumnya menunjukkan bahwa maskot tetap memainkan peran penting dalam membentuk narasi, memperkuat identitas visual, serta menciptakan atmosfer keseluruhan turnamen.
