Perjalanan Lionel Messi di ajang Piala Dunia merupakan kisah panjang tentang konsistensi, tekanan besar, kegagalan, dan akhirnya pencapaian tertinggi. Gelar juara Piala Dunia 2022 tidak datang secara instan, melainkan menjadi puncak dari proses yang dimulai sejak debutnya di level tertinggi sepak bola internasional. Menjelang Piala Dunia 2026, perjalanan ini kerap dijadikan rujukan dalam menilai arti ketekunan dan kepemimpinan dalam olahraga profesional.
Awal Perjalanan: Piala Dunia 2006

Messi pertama kali tampil di Piala Dunia 2006 saat masih berusia sangat muda. Pada edisi ini, perannya belum sentral, namun publik mulai melihat potensi besar dari gaya bermainnya yang mengandalkan kelincahan, kontrol bola, dan visi permainan. Argentina kala itu memiliki banyak pemain senior, sehingga Messi lebih sering berperan sebagai pelapis. Meski demikian, turnamen ini menjadi fondasi penting bagi pengalamannya di panggung dunia.
Beban Ekspektasi: Piala Dunia 2010

Memasuki Piala Dunia 2010, ekspektasi terhadap Messi meningkat drastis. Ia datang sebagai pemain bintang dengan status salah satu yang terbaik di dunia. Argentina membangun tim dengan harapan besar, namun performa kolektif tidak berjalan konsisten. Messi gagal mencetak gol sepanjang turnamen, dan Argentina tersingkir di fase gugur. Hasil ini menegaskan bahwa kehebatan individu belum tentu cukup tanpa struktur tim yang solid.
Mendekati Puncak: Piala Dunia 2014

Piala Dunia 2014 menjadi titik balik penting. Messi tampil sebagai motor utama Argentina dan menunjukkan kepemimpinan yang lebih matang. Ia membawa timnya melaju hingga final dan berperan besar dalam fase grup serta babak gugur. Namun, kekalahan di laga puncak kembali menggagalkan ambisinya meraih gelar dunia. Meski demikian, performa konsistennya membuat Messi meraih penghargaan individu sebagai pemain terbaik turnamen, sekaligus mempertegas perannya sebagai pemimpin tim nasional.
Fase Sulit: Piala Dunia 2018

Empat tahun kemudian, Piala Dunia 2018 menghadirkan tantangan baru. Argentina datang dengan skuad yang belum sepenuhnya stabil dan menghadapi dinamika internal yang kompleks. Messi tetap menjadi pusat permainan, namun keterbatasan kolektif membuat langkah Argentina terhenti lebih awal. Kegagalan ini memicu perdebatan tentang masa depan Messi di tim nasional, sekaligus mempertanyakan apakah ia masih bisa membawa Argentina meraih gelar besar.
Puncak Karier: Piala Dunia 2022

Piala Dunia 2022 akhirnya menjadi jawaban atas perjalanan panjang tersebut. Messi tampil bukan hanya sebagai pemain bintang, tetapi juga sebagai pemimpin emosional dan taktis. Ia berkontribusi langsung dalam berbagai fase pertandingan, memimpin tim dalam situasi sulit, dan menunjukkan konsistensi hingga laga final. Gelar juara dunia ini menutup rangkaian panjang penantian, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola.
Makna Menjelang Piala Dunia 2026

Menjelang Piala Dunia 2026, pencapaian Messi pada 2022 memiliki makna simbolis. Ia tidak lagi berada dalam posisi mengejar pengakuan, melainkan menjadi figur rujukan bagi generasi berikutnya. Kehadirannya—apapun perannya nanti—dipandang sebagai sumber pengalaman dan stabilitas bagi tim nasional. Fokus pembahasan kini lebih menitikberatkan pada transisi generasi dan keberlanjutan prestasi Argentina.
Penutup
Perjalanan Lionel Messi dari Piala Dunia 2006 hingga juara dunia 2022 menunjukkan bahwa pencapaian tertinggi sering kali lahir dari proses panjang, bukan hasil instan. Kisah ini mencerminkan dinamika sepak bola modern, di mana konsistensi, adaptasi, dan kepemimpinan menjadi faktor kunci.
